ROKAN HILIR (RIAU62.COM) – Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir mendapat tambahan transfer fiskal sekitar Rp106 miliar dari pemerintah pusat. Dana tersebut menjadi tambahan ruang fiskal di tengah tekanan keuangan daerah yang sepanjang 2026 masih menjadi perhatian (Rabu 12/08)
Namun, di balik kabar baik itu tersimpan pertanyaan besar: apakah Rp106 miliar benar-benar mampu menyelesaikan persoalan fiskal Rohil, atau hanya menjadi napas sementara?
Data Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Riau mencatat, hingga April 2026, Rokan Hilir mengalami defisit sekitar Rp109,04 miliar.
Angka tersebut menarik jika disandingkan dengan tambahan transfer pusat sebesar Rp106 miliar. Secara nominal, selisihnya hanya sekitar Rp3,04 miliar.
Tetapi perlu ditegaskan, kedua angka tersebut tidak otomatis berarti dana Rp106 miliar digunakan untuk menutup defisit Rp109,04 miliar. Mekanisme dan peruntukan transfer pusat tetap harus dilihat berdasarkan dokumen anggaran dan realisasinya.
Belanja Pegawai Rp375,54 Miliar
Tekanan fiskal Rohil juga terlihat dari struktur APBD 2026.
Anggaran belanja pegawai tercatat sekitar Rp375,54 miliar. Jika dihitung rata-rata, angka tersebut setara kebutuhan sekitar Rp31,3 miliar per bulan.
Sementara itu, hingga Juni 2026, realisasi total belanja daerah Rohil tercatat sekitar Rp510,71 miliar atau 22,98 persen dari pagu.
Artinya, tambahan Rp106 miliar memang bukan angka kecil. Namun dana tersebut juga tidak serta-merta dapat dianggap sebagai anggaran untuk membayar seluruh kebutuhan pegawai.
Justru publik perlu mengetahui berapa kebutuhan belanja pegawai Rohil sampai akhir tahun dan berapa bagian dari tambahan transfer pusat yang benar-benar dapat digunakan untuk kebutuhan tersebut.
Tunda Bayar Jadi Persoalan Lama
Persoalan fiskal Rohil juga tidak berhenti pada belanja pegawai.
Sebelumnya, BPKAD Rohil pernah mengungkap adanya sekitar Rp182 miliar pembayaran yang belum tersalurkan pada Desember 2025, baik terkait OPD maupun rekanan.
Memasuki 2026, penyelesaian kewajiban tersebut masih menjadi perhatian.
Karena itu, muncul pertanyaan penting: berapa sebenarnya tunda bayar Rohil yang masih tersisa saat ini?
Angka Rp182 miliar tidak boleh begitu saja dianggap sebagai saldo tunda bayar terbaru, karena sebagian kewajiban bisa saja telah dibayarkan. Namun, pemerintah daerah perlu membuka angka terbarunya agar publik mengetahui kondisi sebenarnya.
Gaji ke-13 Belum Selesai
Tekanan fiskal juga sempat terlihat dari pembayaran hak aparatur.
Rohil termasuk daerah yang disebut belum menyelesaikan pembayaran gaji ke-13 dan TPP ke-13 pada pertengahan 2026.
Fakta ini menjadi relevan karena pemerintah pusat menyebut tambahan dukungan fiskal diharapkan membantu daerah menyelesaikan persoalan belanja pegawai, termasuk pembayaran hak PPPK penuh waktu maupun paruh waktu.
Maka pertanyaannya sederhana:
Setelah Rp106 miliar dikucurkan, apakah persoalan hak pegawai Rohil ikut terselesaikan?
Publik Menunggu Lima Angka
Di tengah masuknya dana Rp106 miliar, ada sedikitnya lima angka yang layak dibuka Pemkab Rohil kepada publik.
Pertama, berapa saldo kas daerah terbaru.
Kedua, berapa total tunda bayar yang masih tersisa.
Ketiga, berapa kebutuhan belanja pegawai hingga Desember 2026.
Keempat, berapa dana transfer Rp106 miliar yang sudah masuk ke kas daerah dan bagaimana komponennya.
Kelima, berapa total kewajiban pemerintah daerah kepada pihak ketiga yang belum dibayarkan.
Lima angka itu akan menjadi kunci untuk melihat apakah kondisi fiskal Rohil benar-benar membaik atau hanya mendapat tambahan napas untuk sementara.
Rp106 Miliar Harus Terlihat Manfaatnya
Tambahan transfer dari pusat tentu patut disyukuri. Namun, dana sebesar Rp106 miliar bukan sekadar angka dalam dokumen pemerintah.
Ada uang publik di dalamnya dan ada tanggung jawab besar untuk memastikan penggunaannya tepat sasaran.
Karena itu, publik Rohil berhak mengetahui uang tersebut masuk ke mana, digunakan untuk apa, kewajiban apa yang diselesaikan, dan berapa sisa beban fiskal daerah setelah dana itu digunakan.
Sebab pertanyaan terbesarnya bukan lagi “Rohil dapat Rp106 miliar?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Setelah Rp106 miliar masuk, berapa besar lubang fiskal Rohil yang benar-benar tertutup?”(sy)






