KAMPAR (Riau62.com) – Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus diintensifkan. Hingga Selasa (25/8/2026), pemantauan menunjukkan terdapat dua hotspot di wilayah Riau. Kedua titik panas tersebut terpantau berada di lokasi yang sama.
Penanganan difokuskan di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Sebanyak 283 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan di areal lahan gambut yang terdampak kebakaran.
Personel gabungan tersebut terdiri atas 153 personel Polri, 45 personel Brimob, 30 personel TNI, 18 personel BPBD, 18 personel Manggala Agni, serta 19 personel dari sejumlah perusahaan yang turut mendukung operasi.
Kapolres Kampar AKBP Boby Putra mengatakan, seluruh personel dibagi menjadi 10 regu untuk mempercepat proses pemadaman dan pendinginan, khususnya pada bagian lahan yang masih mengeluarkan asap.
“Fokus kami sekarang memastikan seluruh bara yang masih tersimpan di dalam gambut benar-benar padam dan tidak kembali memunculkan api. Personel dibagi menjadi 10 regu agar penanganan bisa dilakukan secara lebih efektif,” kata Boby.
Berdasarkan pendataan sementara, luas lahan yang terdampak karhutla diperkirakan mencapai 13 hektare. Kondisi lahan yang didominasi gambut tebal dan semak belukar menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.
Pada lahan gambut, bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api di atas tanah telah terlihat padam. Karena itu, proses pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah munculnya kembali titik api.
Dalam operasi tersebut, tim gabungan menggunakan berbagai peralatan pemadaman, mulai dari mesin pompa, ministriker, nozzle, selang pemadam, water tank hingga kendaraan pemadam kebakaran.
Selain menyemprot dan mendinginkan area yang masih mengeluarkan asap, petugas juga melakukan penyiraman serta membuat blokade pada bagian lahan yang belum terbakar guna mencegah api merambat ke area lain.
Boby mengatakan, garis polisi juga telah dipasang di sekitar lokasi. Sementara itu, terkait pemilik lahan maupun penyebab kebakaran, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan.
“Police line juga sudah kami pasang di lokasi. Untuk pemilik lahan maupun penyebab terjadinya kebakaran masih dalam proses penyelidikan. Penanganan di lapangan berjalan bersamaan dengan proses penegakan hukum,” ujarnya.
Hingga Selasa siang, asap masih terlihat di sejumlah bagian lahan. Kondisi tersebut membuat proses pendinginan terus dilakukan.
Perubahan arah angin dan karakteristik lahan gambut menjadi tantangan bagi personel di lapangan. Meski demikian, situasi di sekitar lokasi dilaporkan dalam keadaan aman dan terkendali.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Riau Kombes Akmadi mengatakan, penanganan karhutla di Rimbo Panjang merupakan bagian dari operasi terpadu yang melibatkan Polri, TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, perusahaan dan unsur terkait lainnya.
Menurutnya, penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga mencakup deteksi dini, patroli, pendinginan, pencegahan meluasnya kebakaran hingga penegakan hukum.
“Prinsipnya adalah kolaborasi. Polri tidak bekerja sendiri. Ada TNI, BPBD, Manggala Agni, pemerintah daerah, masyarakat dan unsur perusahaan yang bergerak bersama,” jelasnya.
“Semua sumber daya yang tersedia kita konsolidasikan untuk mempercepat pengendalian karhutla,” imbuh Akmadi.
Ia menambahkan, perkembangan hotspot terus dipantau secara berkala. Berdasarkan pemantauan sejak Selasa pagi hingga pemantauan terakhir, tercatat dua hotspot di wilayah Riau dan keduanya berada pada lokasi yang sama.
“Dari pagi sampai pemantauan terakhir jumlah hotspot masih dua titik dan berada di lokasi yang sama. Perkembangan ini terus kami monitor. Penurunan jumlah titik panas tentu menjadi perkembangan positif, tetapi tidak boleh membuat kita lengah,” ujarnya.
Akmadi mengatakan, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk mempertahankan kesiapsiagaan dan memastikan penanganan karhutla terus dilakukan selama masih ditemukan asap maupun bara di lapangan.
“Pesan Bapak Kapolda jelas, fokus tuntaskan pemadaman dan pendinginan. Selama masih ada asap dan bara, personel tetap bekerja. Targetnya bukan sekadar api padam di permukaan, tetapi memastikan tidak terjadi kebakaran kembali,” tegasnya.
Polda Riau bersama TNI, pemerintah daerah dan seluruh stakeholder terkait akan terus melakukan pemantauan hotspot dan firespot, patroli serta operasi pemadaman dan pendinginan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan karhutla tidak berhenti pada pemadaman api di permukaan, tetapi benar-benar mencegah munculnya kembali titik api dan meluasnya kebakaran (sy)






