ROKAN HILIR (Riau62.com) – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar rapat koordinasi (Rakor) sebagai momentum evaluasi program yang telah berjalan sekaligus menyusun perencanaan kegiatan olahraga untuk tahun berikutnya (Rabu 12/08)
Rakor tersebut menjadi ruang evaluasi bagi KONI bersama pengurus cabang olahraga, sekaligus membahas strategi pembinaan atlet di tengah kondisi fiskal daerah yang menuntut setiap program dilaksanakan secara terukur, efektif dan efisien.
Wakil I KONI Provinsi Riau, Khairul Fahmi, menekankan agar Rakor KONI Rohil tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, tetapi benar-benar dimanfaatkan untuk mengevaluasi program sekaligus menyusun kegiatan berdasarkan kemampuan anggaran daerah.
“Dengan kondisi fiskal daerah hari ini, kita berharap teman-teman Rohil bisa menyusun anggaran dan kegiatan berdasarkan anggaran yang ada. Jadi kegiatan yang direncanakan betul-betul terukur, efektif dan efisien,” ujar Khairul Fahmi dalam Rakor tersebut.
Menurutnya, keterbatasan fiskal harus dijawab dengan perencanaan yang lebih matang. Program yang disusun KONI diharapkan memiliki target yang jelas dan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan prestasi olahraga.
Selain persoalan anggaran, Khairul Fahmi juga mendorong KONI Rohil melakukan pemetaan terhadap cabang olahraga (cabor) unggulan.
Menurutnya, proses talent scouting atau identifikasi bakat atlet justru harus dimulai dari daerah. Kabupaten menjadi salah satu sumber utama dalam menemukan atlet potensial yang nantinya dapat dibina hingga menjadi atlet unggulan Provinsi Riau.
“Kita berharap daerah bisa membuat program bagaimana menciptakan atlet-atlet potensial baru. Potensi itu nantinya bisa dilirik menjadi atlet unggulan di tingkat Provinsi Riau,” katanya.
Khairul Fahmi menyarankan KONI Rohil menetapkan dua atau tiga cabor yang benar-benar menjadi prioritas pembinaan. Penetapan cabor unggulan tersebut bukan berarti mengabaikan cabang olahraga lainnya, melainkan memberikan fokus agar pembinaan dan target prestasi dapat lebih terukur.
“Bukan maknanya cabor lain tidak diperhatikan. Tetapi dua atau tiga cabor bisa ditetapkan menjadi unggulan Rohil, sehingga fokus prestasinya jelas,” jelasnya.
Ia menyebut, berdasarkan potensi yang selama ini terlihat, cabor seperti catur dan voli dapat menjadi bahan pertimbangan untuk dipetakan sebagai cabor unggulan Rohil. Namun, keputusan tersebut tetap harus melalui kajian dan pembahasan bersama KONI serta pengurus masing-masing cabor.
Khairul Fahmi juga menyampaikan bahwa Provinsi Riau memiliki sejumlah cabor yang selama ini menjadi kekuatan daerah, di antaranya anggar, ski air dan senam.
“Ini bisa menjadi contoh bagi teman-teman di daerah untuk menetapkan cabor unggulan masing-masing. Setiap daerah tentu punya keunikan dan potensi yang berbeda,” ujarnya.
Sport Tourism dan Dampak Ekonomi
Rakor tersebut juga membahas penyelenggaraan event olahraga yang tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga dapat memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat.
Khairul Fahmi mengatakan konsep sport tourism dan sportainment saat ini semakin penting karena kegiatan olahraga dapat menjadi bagian dari penggerak ekonomi daerah, termasuk membuka peluang bagi pelaku UMKM.
Menurutnya, sebuah event olahraga setidaknya harus mampu memenuhi beberapa indikator, mulai dari prestasi, sukses penyelenggaraan hingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kita sekarang menggaungkan sport tourism dan sportainment. Dalam agenda olahraga disisipkan bagaimana meningkatkan ekonomi daerah,” katanya.
Ia juga mengapresiasi Rohil yang telah menjadi tuan rumah sejumlah event olahraga. Kehadiran atlet dari kabupaten lain dinilai memberikan manfaat bagi atlet lokal karena mereka mendapatkan lawan tanding dengan tingkat kemampuan yang berbeda.
“Adik-adik yang sudah latihan berbulan-bulan di sini mendapatkan lawan tanding dari kabupaten lain. Dari situ baru mereka tahu, oh saya belum hebat, saya masih lemah di mana. Itu menjadi evaluasi,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Rohil Ari Darma menekankan pentingnya sinkronisasi program antara pemerintah daerah dan KONI, terutama dalam menyusun program kerja yang realistis dengan kemampuan anggaran.
Keterbatasan anggaran, menurutnya, harus menjadi dasar dalam menentukan skala prioritas pembinaan olahraga. Program yang diajukan KONI nantinya diharapkan benar-benar memiliki indikator keberhasilan dan mampu menciptakan atlet berprestasi.
“Program kerja harus betul-betul menciptakan atlet berprestasi dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran yang tersedia,” demikian poin yang disampaikan dalam Rakor.
Hibah KONI Rohil Turun Menjadi Rp2,4 Miliar
Sementara itu, Ketua KONI Kabupaten Rokan Hilir Riwansyah, S.STP, M.Si menyampaikan bahwa seluruh pengurus KONI dan cabang olahraga tetap berkomitmen membangun prestasi olahraga daerah meskipun menghadapi keterbatasan anggaran.
Ia menjelaskan, pada 2026 KONI Rohil memperoleh dana hibah sekitar Rp2,4 miliar, turun dibandingkan sebelumnya yang mencapai sekitar Rp3 miliar sebagai dampak kebijakan efisiensi anggaran.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi KONI untuk lebih selektif dalam menyusun program dan mengoptimalkan setiap anggaran yang tersedia.
“Dalam Rp2,4 miliar ini kami berkomunikasi dengan pemerintah daerah melalui cabang olahraga maupun kejuaraan. Kita berharap kegiatan olahraga juga dapat meningkatkan PAD daerah dan mengenalkan olahraga kepada seluruh masyarakat,” ujarnya.
Meski anggaran mengalami pengurangan, KONI Rohil tetap mencatat sejumlah capaian. Salah satunya ketika Rohil dipercaya menjadi tuan rumah Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) dan berhasil menempatkan diri dalam tiga besar.
Capaian tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menghadapi agenda olahraga berikutnya, khususnya persiapan menuju Kejurprov mendatang.
Ketua KONI Rohil juga memberikan apresiasi kepada seluruh pengurus cabang olahraga dan atlet yang selama hampir dua tahun terakhir tetap menjalankan program pembinaan.
Ia mengakui, tidak seluruh program dapat direalisasikan hingga 100 persen karena berbagai kendala di lapangan. Namun, semangat para pengurus dan atlet untuk membangun olahraga Rohil dinilai mulai menunjukkan hasil.
Ke depan, KONI Rohil diharapkan mampu menerapkan pola “minim anggaran, maksimal prestasi”, dengan memperkuat perencanaan, menentukan cabor prioritas serta mengarahkan anggaran kepada program pembinaan yang memiliki dampak nyata.
Program kerja yang dihasilkan dari Rakor tersebut nantinya diharapkan menjadi dasar bagi KONI dalam mengusulkan kebutuhan anggaran kepada pemerintah daerah.
Dengan demikian, dana hibah yang tersedia tidak hanya habis untuk kegiatan, tetapi benar-benar dapat dikonversi menjadi prestasi, atlet berprestasi dan pembinaan olahraga yang berkelanjutan di Kabupaten Rokan Hilir.
Target akhirnya, prestasi Rohil tidak hanya mampu bertahan di tingkat daerah, tetapi juga melahirkan atlet-atlet potensial yang dapat memperkuat kontingen Provinsi Riau hingga ke level nasional.(sy)






