PEKANBARU (Riau62.com) — Jurnalis senior sekaligus Direktur Utama Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC), Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H., MT.BNSP., C.PCT., mengajak insan pers Indonesia untuk mengubah cara pandang dalam menghadapi intimidasi verbal maupun perlakuan merendahkan terhadap profesi wartawan.
Menurut Wahyudi, wartawan harus memiliki kesiapan mental, ketegasan sikap, serta kemampuan komunikasi yang cerdas ketika berhadapan dengan narasumber yang arogan atau mencoba menyerang pribadi jurnalis.
Penulis sejumlah buku jurnalistik nasional itu menilai, insan pers tidak seharusnya hanya menempatkan diri sebagai korban dan kemudian menjadikan pengalaman penghinaan sebagai bahan pemberitaan tanpa langkah komunikasi yang tepat.
Hal tersebut disampaikan Wahyudi di hadapan sejumlah pemimpin redaksi media berita di kediamannya di Pekanbaru, Ahad (30/8/2026) sore.
Wahyudi menegaskan, setiap jurnalis memiliki hak untuk membela martabat profesinya. Namun, pembelaan tersebut harus dilakukan secara profesional, cerdas, dan tetap berada dalam koridor etika jurnalistik.
«“Jangan sedikit-sedikit merasa dilecehkan, kemudian hanya melapor dan memberitakan penghinaan itu sebagai bahan cemoohan orang. Anda punya hak untuk membela diri dengan komunikasi yang cerdas dan berkelas,” ujar Wahyudi.»
Menurutnya, menghadapi narasumber yang menunjukkan sikap arogan membutuhkan kemampuan retorika dan penguasaan komunikasi yang baik.
Ia mencontohkan sejumlah peristiwa ketika jurnalis mendapat respons keras dari tokoh publik. Situasi seperti itu, kata Wahyudi, seharusnya tidak selalu dihadapi dengan emosi atau sikap defensif.
Sebaliknya, wartawan harus mampu tetap tenang dan mengendalikan situasi melalui pertanyaan serta respons yang tajam, logis, dan profesional.
Wahyudi, yang telah menekuni dunia jurnalistik sejak tahun 1985, menyebut kemampuan membalikkan situasi secara elegan atau turning the tables menjadi salah satu keterampilan penting bagi wartawan saat menghadapi tekanan verbal.
Penulis buku “Strategi Wartawan Menembus Narasumber” dan “Untukmu yang Ingin Menjadi Wartawan Sukses” itu juga memberikan contoh bagaimana seorang wartawan dapat merespons pertanyaan atau ucapan yang menyerang pribadi tanpa harus membalas dengan kemarahan.
Misalnya, ketika seorang narasumber melontarkan kalimat, “Lu punya otak enggak?”, wartawan, menurut Wahyudi, tidak perlu terpancing untuk membalas dengan makian.
Respons yang tenang dan argumentatif justru dapat mengembalikan fokus pembicaraan kepada substansi persoalan.
«“Loh, kalau Anda punya otak, jawab dong pertanyaan saya secara elegan,” kata Wahyudi memberikan contoh respons.»
Menurutnya, pembalikan logika semacam itu dapat membuat narasumber kembali pada pokok persoalan tanpa harus terjadi adu emosi.
Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa narasumber yang mulai menyerang pribadi wartawan atau menggunakan pendekatan ad hominem sering kali telah bergeser dari substansi pertanyaan yang diajukan.
Karena itu, wartawan harus mampu mengenali situasi tersebut dan tetap menjaga arah wawancara agar tidak keluar dari persoalan utama.
“Ketika seseorang tidak lagi menjawab substansi, tetapi mulai menyerang pribadi penanya, di situlah wartawan harus mampu membaca situasi dan mengendalikan komunikasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa wartawan menjalankan fungsi penting dalam kehidupan demokrasi, terutama dalam menggali informasi dan menguji akuntabilitas pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap publik.
Oleh sebab itu, penguasaan teknik komunikasi, retorika, dan psikologi massa, menurut Wahyudi, bukan sekadar kemampuan tambahan, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga profesionalitas dan marwah profesi jurnalistik.
«“Menguasai teknik komunikasi tingkat tinggi bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi salah satu kemampuan penting bagi wartawan untuk menjaga marwah profesinya,” ujarnya.»
Di akhir penyampaiannya, Wahyudi mengajak para jurnalis dan pemimpin redaksi untuk terus memperkuat literasi komunikasi taktis di lingkungan redaksi.
Menghadapi narasumber dengan karakter keras, katanya, membutuhkan ketenangan, kecerdasan intelektual, serta kemampuan menguasai situasi tanpa meninggalkan etika profesi.
“Wartawan harus dihormati karena profesionalitas, kecerdasan, dan kualitas komunikasinya. Bukan karena ancaman atau sekadar reaksi emosional,” pungkas Wahyudi.






